I posted it to IAI - Ikatan Arsitek Indonesia mailing list on March 2010. Never read a book about it and or attended an architect profesional class whatsoever. Hope it's gonna be useful for everyone since it gain quite much responds there *smile* [I'll translate it to English later on, promise *wink*]
Untuk Pihak Pelamar Kerja:
+ Kirim surat lamaran dan CV yang ditulis dengan singkat padat berisi tentang segala info kegiatan dan personal anda yang patut diketahui perusahaan. Agama, orientasi seksual dan info2 sejenis saya rasa nggak perlu disertakan dalam CV karena tidak relevan dengan hasil kerja kita sebagai profesional.
+ Jangan terlalu textbook, alias terpaku oleh persyaratan2 yang diminta oleh sebuah perusahaan. Seperti halnya syarat2 berikut:
1. Syarat harus dari lulusan Universitas terkenal - sifatnya relatif. Yang terkenal di suatu daerah belum tentu dikenal di daerah lain. jadi cuek aja yang penting kirim dan pede apalagi kalau portfolio anda memang cemerlang, siapa takut?
2. Syarat harus jenis kelamin tertentu - seperti kebetulan contoh di bawah ini: syarat: Laki-laki, nah yang perempuan seharusnya sih cuek aja juga, silakan daftar dan buat mereka tercengang dengan HASIL KERJA/portfolio anda, bukan karena jenis kelamin dan orientasi seksual anda.
+ Hadir tepat waktu dan kalau bisa sih 30 menit sebelumnya.
+ Pakailah baju yang sesuai dengan jabatan sasaran, misalnya jangan pakai jas resmi kalau melamar jadi arsitek, terlalu formal dan puanas! Pakai baju yang rapi dan se-stylish mungkin. Males juga kalau arsiteknya kurang gaya atau tidak rapi sama sekali kan...ngurus diri sendiri aja nggak bener, demikian mungkin kesan yang ditimbulkan jika kita berantakan. Nggak usah terlalu banyak pakai aksesori tangan jam/gelang/cincin segede2 apa tau, bakal repot kalau lagi ngerjain tes gambar [berlaku untuk lelaki dan perempuan]
+ Jika diberi tahu untuk datang mengerjakan tes sketsa, jangan GR untuk diminta sketsa di SketchUp atau ArchiCAD dll, bawalah alat-alat gambar sendiri: marker, pensil, penghapus dan penggaris skala, karena percayalah, tidak semua kantor berbaik hati menyediakan alat-alat tersebut dan cuma menyodorkan kertas gambar polos dan milimeterblock
+ Kerjakanlah tes secepat mungkin yang anda bisa, maksimal 2 jam. Kalau lebih dari itu tidak efektif juga rasanya. Kira-kiralah sendiri dalam 2 jam anda bisa membuat apa. Jangan terjebak kata2: oh silakan kerjakan selama anda mau, tidak ada batas waktu. Tentu ada dong ya, terutama untuk kita-kita yang sebenarnyalah bekerja sebagai freelancer dan kadang-kadang dalam sehari bisa ada meeting 1-2 kali dan kalau anda butuh waktu lebih dari dua jam untuk sekedar denah saja tentu juga jadi tanda tanya untuk mereka.
+ Buat yang baru lulus/1-2th kerja/dibawah 5th kerja - cari tahu standar gaji di kantor lain berapa, kalau perlu juga standar di kantor non arsitek. sama2 manusia tinggal di Jakarta, jadi mestinya sama dong, mana arsitek tuh kerjaannya berat dan dari lembur ke lembur...jangan mau dibayar terlalu murah!
Untuk Pihak Terlamar Kerja:
+ Kalau anda mensyaratkan arsitek senior dan menyuruhnya sketsa freehand, coba ingat-ingat, kapan terakhir anda mengerjakan sendiri gambar sketsa secara freehand. Arsitek senior biasanya sudah lebih dari 10 tahun bekerja [mungkin lebih lama dari usia kantor anda] dan terbiasa mendelegasikan pekerjaannya ke pihak lain: drafter atau junior arsitek. Dan dia sendiri pun di jaman begini tentu sehari-hari mungkin lebih banyak mengoperasikan AutoCAD untuk efisiensi kerja dan rada gagap kalau disuruh2 freehand ala anak semester satu. Jadi sebenarnya portfolio yang dia ajukan sudah cukup menjawab pengalaman kerjanya dan tidak perlu disuruh ngerjain tes sketsa freehand. Kalaupun disuruh, perhatikan hasil sistem kerjanya, bukan kerapiannya. Ingat, kita cari arsitek, bukan ilustrator. Kalau anda memang mau cari ilustrator, itu sudah urusan lain dan nggak perlu dari universitas terkenal atau kelamin tertentu, yang penting gambar freehandnya bagus, titik.
+ Berilah minum kepada kandidat yang sedang dites karena nggambar itu capek juga deh ya apa lagi sambil mikir. Tidak perlu kue2, air putih aja cukup kok, pasti ada dong air mineral galon di kantor anda..
+ Buatlah janji /perjanjian untuk wawancara yang baik dan benar kepada si arsitek terutama yang senior karena dalam satu hari orang tersebut bisa punya 1-2 janji. Saling hormat menghormati tentu diperlukan karena bukan tidak mungkin si arsitek senior ini akan menjadi pesaing dan atau rekanan kerja anda dikemudian hari dalam sebuah proyek.
+ Ada standar gaji yang membedakan arsitek dengan drafter, arsitek junior, drafter junior, arsitek senior, drafter senior, dan seterusnya. Perhatikan kebutuhan perusahaan anda, apa yang benar2 anda butuhkan: arsitek, drafter atau ilustrator spesial? Junior atau senior? Standar Jakarta tentu berbeda dengan kota lain di Indonesia. Jangan terlalu kaget dan anda memang akan mendapatkan kualitas sesuai yang anda bayarkan, kalau untung memang bakal dapet yang murmer dan tahan banting. Cuma patut dipikirkan kantor anda letaknya ada di kota apa, Jakarta beda dengan Sukabumi misalnya. Ongkos hidup di Jakarta sekali ke supermarket sudah sama dengan sekali ke supermarket di Inggris. Kaget ya? Harga-harga di Sainsbury more or less sama dengan Hero Kemang atau Ranch Market, kalau Tesco kira2 sama deh dengan Giant atau sejenis..Carrefour, dll.
Sekian tips-tips dari saya, break time habis :D
Semoga berhasil ya teman-teman!!
+ Kirim surat lamaran dan CV yang ditulis dengan singkat padat berisi tentang segala info kegiatan dan personal anda yang patut diketahui perusahaan. Agama, orientasi seksual dan info2 sejenis saya rasa nggak perlu disertakan dalam CV karena tidak relevan dengan hasil kerja kita sebagai profesional.
+ Jangan terlalu textbook, alias terpaku oleh persyaratan2 yang diminta oleh sebuah perusahaan. Seperti halnya syarat2 berikut:
1. Syarat harus dari lulusan Universitas terkenal - sifatnya relatif. Yang terkenal di suatu daerah belum tentu dikenal di daerah lain. jadi cuek aja yang penting kirim dan pede apalagi kalau portfolio anda memang cemerlang, siapa takut?
2. Syarat harus jenis kelamin tertentu - seperti kebetulan contoh di bawah ini: syarat: Laki-laki, nah yang perempuan seharusnya sih cuek aja juga, silakan daftar dan buat mereka tercengang dengan HASIL KERJA/portfolio anda, bukan karena jenis kelamin dan orientasi seksual anda.
+ Hadir tepat waktu dan kalau bisa sih 30 menit sebelumnya.
+ Pakailah baju yang sesuai dengan jabatan sasaran, misalnya jangan pakai jas resmi kalau melamar jadi arsitek, terlalu formal dan puanas! Pakai baju yang rapi dan se-stylish mungkin. Males juga kalau arsiteknya kurang gaya atau tidak rapi sama sekali kan...ngurus diri sendiri aja nggak bener, demikian mungkin kesan yang ditimbulkan jika kita berantakan. Nggak usah terlalu banyak pakai aksesori tangan jam/gelang/cincin segede2 apa tau, bakal repot kalau lagi ngerjain tes gambar [berlaku untuk lelaki dan perempuan]
+ Jika diberi tahu untuk datang mengerjakan tes sketsa, jangan GR untuk diminta sketsa di SketchUp atau ArchiCAD dll, bawalah alat-alat gambar sendiri: marker, pensil, penghapus dan penggaris skala, karena percayalah, tidak semua kantor berbaik hati menyediakan alat-alat tersebut dan cuma menyodorkan kertas gambar polos dan milimeterblock
+ Kerjakanlah tes secepat mungkin yang anda bisa, maksimal 2 jam. Kalau lebih dari itu tidak efektif juga rasanya. Kira-kiralah sendiri dalam 2 jam anda bisa membuat apa. Jangan terjebak kata2: oh silakan kerjakan selama anda mau, tidak ada batas waktu. Tentu ada dong ya, terutama untuk kita-kita yang sebenarnyalah bekerja sebagai freelancer dan kadang-kadang dalam sehari bisa ada meeting 1-2 kali dan kalau anda butuh waktu lebih dari dua jam untuk sekedar denah saja tentu juga jadi tanda tanya untuk mereka.
+ Buat yang baru lulus/1-2th kerja/dibawah 5th kerja - cari tahu standar gaji di kantor lain berapa, kalau perlu juga standar di kantor non arsitek. sama2 manusia tinggal di Jakarta, jadi mestinya sama dong, mana arsitek tuh kerjaannya berat dan dari lembur ke lembur...jangan mau dibayar terlalu murah!
Untuk Pihak Terlamar Kerja:
+ Kalau anda mensyaratkan arsitek senior dan menyuruhnya sketsa freehand, coba ingat-ingat, kapan terakhir anda mengerjakan sendiri gambar sketsa secara freehand. Arsitek senior biasanya sudah lebih dari 10 tahun bekerja [mungkin lebih lama dari usia kantor anda] dan terbiasa mendelegasikan pekerjaannya ke pihak lain: drafter atau junior arsitek. Dan dia sendiri pun di jaman begini tentu sehari-hari mungkin lebih banyak mengoperasikan AutoCAD untuk efisiensi kerja dan rada gagap kalau disuruh2 freehand ala anak semester satu. Jadi sebenarnya portfolio yang dia ajukan sudah cukup menjawab pengalaman kerjanya dan tidak perlu disuruh ngerjain tes sketsa freehand. Kalaupun disuruh, perhatikan hasil sistem kerjanya, bukan kerapiannya. Ingat, kita cari arsitek, bukan ilustrator. Kalau anda memang mau cari ilustrator, itu sudah urusan lain dan nggak perlu dari universitas terkenal atau kelamin tertentu, yang penting gambar freehandnya bagus, titik.
+ Berilah minum kepada kandidat yang sedang dites karena nggambar itu capek juga deh ya apa lagi sambil mikir. Tidak perlu kue2, air putih aja cukup kok, pasti ada dong air mineral galon di kantor anda..
+ Buatlah janji /perjanjian untuk wawancara yang baik dan benar kepada si arsitek terutama yang senior karena dalam satu hari orang tersebut bisa punya 1-2 janji. Saling hormat menghormati tentu diperlukan karena bukan tidak mungkin si arsitek senior ini akan menjadi pesaing dan atau rekanan kerja anda dikemudian hari dalam sebuah proyek.
+ Ada standar gaji yang membedakan arsitek dengan drafter, arsitek junior, drafter junior, arsitek senior, drafter senior, dan seterusnya. Perhatikan kebutuhan perusahaan anda, apa yang benar2 anda butuhkan: arsitek, drafter atau ilustrator spesial? Junior atau senior? Standar Jakarta tentu berbeda dengan kota lain di Indonesia. Jangan terlalu kaget dan anda memang akan mendapatkan kualitas sesuai yang anda bayarkan, kalau untung memang bakal dapet yang murmer dan tahan banting. Cuma patut dipikirkan kantor anda letaknya ada di kota apa, Jakarta beda dengan Sukabumi misalnya. Ongkos hidup di Jakarta sekali ke supermarket sudah sama dengan sekali ke supermarket di Inggris. Kaget ya? Harga-harga di Sainsbury more or less sama dengan Hero Kemang atau Ranch Market, kalau Tesco kira2 sama deh dengan Giant atau sejenis..Carrefour, dll.
Sekian tips-tips dari saya, break time habis :D
Semoga berhasil ya teman-teman!!
No comments:
Post a Comment